![]() |
| Foto : Merdeka.com |
Apa yang berlangsung pada hari Sabtu malam di Muskot (Musyawarah Kota) PPMI
Dewan Kota Surakarta merupakan salah satu peristiwa penting di mana titik geliat
pers mahasiswa se-Soloraya diakhiri sekaligus diawali. Setiap peristiwa suksesi
berlangsung, harapan jadi keniscayaan tersendiri. Di mana harapan datang,
gagasan bisa jadi jawaban akan hal itu.
Pasca Muskot memang ada sebuah pergantian tampuk kepemimpinan di PPMI DK
Surakarta. Otomatis saat wajah-wajah berganti, ada ide yang turut berubah. Di
sisi lain, pakem-pakem baru pun ikut mencuat. Walau demikian, itu semua tak
akan terjadi tanpa adanya partisipasi kritis dari rekan-rekan pers mahasiswa
se-Soloraya.
Meski umum sekedar dianggap wadah untuk berkomunikasi, tak semestinya PPMI
hanya berhenti sebagai wadah berkeluh kesah saja. PPMI dapat melakukan lebih
daripada itu. Ketika komunikasi terjalin, maka pertukaran ide itu bertukar
tangkap. Dan saat pertukaran ide berjalan, gagasan-gagasan segar seharusnya
mencuat untuk landasan pengembangan diri tiap pers mahasiswa.
Terkait dinamika pers mahasiswa, sebenarnya pers mahasiswa se-Soloraya
memiliki basis keilmuan yang baik. Tiap kampus yang menanungi memiliki
kurikulum dan karakternya masing-masing. Akan tetapi, perspektif jurnalisme di dalam
pers mahasiswa se-Solo kami amati masih kurang mengemuka dan berdinamika. Meski
begitu ini masih sebatas asumsi belaka.
Kami sempat ber-angan-angan bilamana basis keilmuan yang kuat itu berpadu-padan
dengan perspektif jurnalisme, wajah pers mahasiswa se-Soloraya ini pasti akan
lebih berwarna dan greget. Basis
akademik yang menjadi modal awal dalam terjun ke dunia pers mahasiswa itu sudah
pasti akan berkembang lebih dari sekedar belajar di kampus.
Jadi, memang dasarnya ini adalah perkara perspektif atau pandangan hidup.
Pers mahasiswa memang sudah selayaknya melihat sesuatu tidak dengan cara
pandang yang normatif belaka. Dengan terjun ke dunia pers mahasiswa, semestinya
ada suatu hal yang baru saat awak pers mahasiswa ini hidup dan menjadi pelaku civitas academica di kampusnya
masing-masing.
Melihat daripada hal itu, lagi-lagi perspektif jurnalisme diperlukan agar
mengakar dalam benak para pegiat pers mahasiswa. Perspektif jurnalisme adalah
alat untuk membedah ketimpangan sosial. Perspektif jurnalisme lebih
sederhananya dapat membuka jalan untuk melihat sebuah peluang dalam lingkungan
sosial kita. Kerja jurnalistik beserta segala perangkat-perangkatnya seperti,
elemen-elemen dasar, kode etik, maupun tekniknya, akan menghasilkan sebuah
karya yang dapat membuka cakrawala baru bagi masyarakat.
Andreas Harsono, penulis Buku ”Agama Saya adalah Jurnalisme” mengatakan
bahwa pers mahasiswa sebenarnya tak perlu banyak berdiskusi. Cukup dengan
intensif mengadakan pelatihan, maka jurnalis kampus ini akan terasah secara
penulisan. Meski demikian pelatihan saja tidak cukup. Fondasi dasar sebelum
berlatih menulis adalah sebuah pikiran. Pikiran yang baik akan menghasilkan
sebuah tulisan yang baik. Ujung-ujungnya, untuk menghasilkan pikiran ataupun pemikiran
yang matang dalam kerja jurnalistik, diskusi adalah muaranya.
Apalagi yang dapat menguatkan pandangan dunia awak pers kampus terkait
pengembangan diri mereka? Tentu saja jawabannya adalah sebuah jaringan. Dengan
jaringan yang baik dan relasi nan terbuka, ide-ide dan gambaran realitas yang
baru akan tergurat di pikiran-pikiran kita. Dengan jaringan pula, wacana yang
berkembang dari diskusi dan pelatihan dapat lebih berpacu dengan kemajuan.
Inilah sebenarnya kunci agar pers mahasiswa tidak gagap dengan kemajuan zaman.
Apakah PPMI memiliki itu semua? Kita sedang menuju kesana walaupun belum
sepenuhnya lengkap. Tapi mengenai jaringan, jelas PPMI memilikinya. Untuk
mengembangkannya, PPMI Dewan Kota Surakarta membutuhkan sebuah gerakan yang
bersifat bottom up agar tercipta
kultur pers mahasiswa yang ramai dengan perspektif jurnalisme yang baik. Tak
perlu muluk-muluk untuk melampaui daya progresif, yang
penting ada kemauan dulu untuk belajar dan berjejaring. Dan di kedua hal itu, PPMI
siap menggelar sarana dan fasilitas komunikasinya.
Lalu apa manfaat segala hal yang sudah disebutkan tadi untuk pers mahasiswa
se-Soloraya? Jawabannya belum bisa disampaikan dalam waktu dekat. Mungkin ada baiknya
jika kita berpikir positif dan bergerak dahulu, baru kita petik manfaatnya
nanti saat buah itu sudah ranum. Karena kita tahu, jawaban adalah hasil dari
sebuah fase pencarian. Dan juga karena pada intinya, seperti kata pepatah Jawa,
sopo sing nandur bakale ngunduh.
Salam Persma, Salam Pers Mahasiswa
Redaksi Persmasolo.org

EmoticonEmoticon